Pendahuluan
Al-Qur’an memuat dua ayat yang sama-sama dimulai dengan seruan: “Yaa ayyuhalladzina amanu kutiba…” (Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu…). Ayat pertama berbicara tentang kewajiban puasa:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat kedua berbicara tentang kewajiban qisos, hukum balasan setimpal dalam pembunuhan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu qisos berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.” (QS. Al-Baqarah: 178)
Kedua ayat ini sama-sama menekankan perintah yang bersifat wajib, dan keduanya memiliki tujuan yang luhur: puasa untuk meningkatkan ketakwaan, sementara qisos untuk menegakkan keadilan dan menjaga kehidupan. Namun, jika kita perhatikan, umat Islam cenderung sangat semangat dalam menjalankan puasa, tetapi enggan atau bahkan mengabaikan pelaksanaan hukum qisos. Fenomena ini adalah salah satu cerminan dari fitnah sulthon (kepemimpinan), di mana masyarakat memilih-milih hukum Allah sesuai kepentingan mereka.
Kewajiban Qisos: Menjaga Keadilan dan Kehidupan
Qisos adalah salah satu bentuk hukum Allah yang bertujuan untuk menegakkan keadilan. Dalam ayat yang sama, Allah menjelaskan hikmah dari qisos:
“Dan dalam qisos itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 179)
Hukum qisos bukanlah bentuk balas dendam, melainkan mekanisme untuk menjaga stabilitas sosial, mencegah kejahatan, dan melindungi nyawa manusia. Dengan menerapkan qisos, Allah menjamin keberlangsungan kehidupan dalam masyarakat.
Namun, banyak masyarakat yang enggan melaksanakan qisos dengan berbagai alasan:
- Pengaruh Hawa Nafsu dan Kepentingan Duniawi
Sebagian masyarakat dan pemimpin lebih memilih sistem hukum buatan manusia yang dianggap lebih “lembut” atau “modern,” padahal sistem tersebut sering kali gagal menegakkan keadilan yang sejati. - Kelemahan Kepemimpinan Islam
Fitnah kepemimpinan (sulthon) menjadi penyebab utama diabaikannya hukum Allah. Banyak pemimpin yang tidak berani atau enggan menegakkan syariat karena khawatir kehilangan dukungan, kekuasaan, atau tekanan dari pihak tertentu. - Minimnya Pemahaman Umat
Sebagian besar umat Islam tidak memahami keadilan dalam hukum qisos. Mereka menganggapnya sebagai bentuk kekerasan, tanpa memahami hikmah besar di baliknya.
Semangat dalam Puasa: Refleksi tentang Ketakwaan Pribadi
Di sisi lain, umat Islam sangat semangat menjalankan ibadah puasa. Hal ini menunjukkan bahwa puasa lebih mudah diterima karena:
- Bersifat Pribadi
Puasa adalah ibadah individu yang tidak memerlukan pengaruh atau keputusan dari pihak lain. Setiap muslim dapat melakukannya tanpa campur tangan orang lain. - Tidak Melibatkan Konflik Sosial
Berbeda dengan qisos yang berkaitan dengan konflik antarindividu atau kelompok, puasa tidak memunculkan potensi benturan kepentingan. - Motivasi Kolektif dalam Ibadah
Dalam bulan Ramadan, umat Islam saling mendukung dan memotivasi untuk menjalankan puasa. Ada nuansa kebersamaan yang memperkuat semangat menjalankannya. - Minim Konsekuensi Duniawi
Puasa tidak menimbulkan dampak langsung terhadap sistem sosial atau politik, berbeda dengan qisos yang sering kali mengundang protes atau perdebatan dalam masyarakat yang tidak memahami syariat.
Fitnah Sulthon: Ketika Hukum Allah Diabaikan
Rasulullah SAW telah memperingatkan umatnya tentang fitnah kepemimpinan yang menjadi penyebab utama diabaikannya hukum Allah. Salah satu bentuk fitnah ini adalah pemimpin yang memimpin berdasarkan hawa nafsu, bukan berdasarkan syariat. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya manusia itu mengikuti agama pemimpinnya.” (HR. Abu Dawud)
Ketika pemimpin tidak menegakkan hukum Allah, masyarakat pun cenderung mengabaikan syariat. Mereka memilih hukum yang lebih sesuai dengan kepentingan duniawi, meskipun bertentangan dengan Al-Haq.
Solusi: Menegakkan Hukum Allah secara Kaffah
Untuk mengatasi fenomena ini, umat Islam harus kembali kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT:
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Beberapa langkah yang perlu diambil adalah:
- Memahami Hikmah di Balik Hukum Allah
Umat Islam harus memahami bahwa semua hukum Allah, termasuk qisos, memiliki hikmah yang besar dan bertujuan untuk kebaikan umat manusia. - Memperbaiki Kepemimpinan Islam
Penting untuk memilih pemimpin yang berani menegakkan syariat, adil, dan berpegang pada hukum Allah. - Meningkatkan Pemahaman dan Kesadaran Umat
Pendidikan Islam harus ditekankan untuk memberikan pemahaman yang benar tentang hukum Allah dan pentingnya menegakkannya. - Membangun Kesadaran Kolektif
Seperti semangat yang terbangun dalam puasa, umat Islam perlu membangun semangat kolektif untuk menegakkan syariat dalam kehidupan sosial dan politik.
Kesimpulan
Ketidakseimbangan antara semangat menjalankan puasa dan mengabaikan qisos mencerminkan tantangan besar yang dihadapi umat Islam dalam menegakkan Al-Haq. Hal ini adalah bagian dari fitnah sulthon, di mana hukum Allah diabaikan karena pengaruh kepentingan duniawi dan kelemahan kepemimpinan. Umat Islam harus berjuang untuk memahami dan menegakkan syariat secara menyeluruh, sehingga hukum Allah dapat menjadi pedoman utama dalam kehidupan pribadi, sosial, dan politik.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Hisyam Khoirul Azzam
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
