Jalan Lembut Menuju Hidayah “Aa laa & Ni’mah” Part 2

Sebagai introspeksi diri, penting bagi kita untuk merenung dan menjaga hati ketika melihat seseorang yang belum melaksanakan shalat, enggan mengaji, atau kurang tertarik pada hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah. Sering kali, kita tergoda untuk menghakimi atau bahkan merasa kesal terhadap mereka. Namun, perlu kita sadari bahwa mungkin saja mereka belum mendapatkan nikmat hidayah (Ni’mah) dari Allah.

Hidayah adalah anugerah yang sangat berharga, dan tidak semua orang diberikan kesempatan untuk merasakannya. Sebagaimana rezeki materi yang menjadi bagian dari Aa Laa, hidayah juga merupakan rezeki yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, daripada memarahi atau mencela mereka, sikap yang lebih bijaksana adalah mendoakan mereka agar Allah melimpahkan hidayah ke dalam hati mereka.

Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau selalu mengedepankan doa dan kelembutan bahkan kepada orang-orang yang menentangnya. Salah satu doa yang sering beliau panjatkan adalah:

“Ya Allah, berilah hidayah kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

Doa ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Rasulullah kepada umatnya, bahkan kepada mereka yang belum memahami kebenaran Islam.

Mengubah hati seseorang bukanlah tugas kita sebagai manusia, melainkan hak prerogatif Allah semata. Sebagaimana Allah berfirman:

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Qasas: 56)

Sebaliknya, marah atau merasa kecewa terhadap mereka yang belum mendapatkan hidayah justru dapat membuat hati kita keras dan jauh dari rasa syukur. Ingatlah, kita pun pernah berada dalam posisi yang membutuhkan hidayah hingga Allah memberikan jalan untuk mengenal-Nya. Apa yang kita miliki sekarang adalah murni rahmat dan kasih sayang-Nya, bukan hasil usaha kita semata.

Mari jadikan kelembutan, doa, dan kasih sayang sebagai jalan untuk mendekatkan mereka kepada Allah. Bukan dengan celaan atau kemarahan. Doa yang tulus dari hati dapat menjadi jalan turunnya rahmat Allah, tidak hanya bagi mereka yang didoakan tetapi juga bagi kita sebagai orang yang mendoakan. Semoga Allah senantiasa melembutkan hati kita dan menjadikan kita sebagai perantara kebaikan bagi orang lain.

Wallahu a’lam bish-shawab.

=========================

Hisyam Khoirul Azzam, Bada Subuh, 21 Januari 2025, Catatan inspirasi kajian Gurunda KH. Abdul Aziz Abdur’rauf, Lc. Alhafidz.


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar