
“Santri Nusantara Markaz Alquran Indonesia: Menghafal dengan Hati, Alami dan Mandiri.”
Pendahuluan
Dalam dunia pendidikan Islam, keberadaan markaz Al-Qur’an Indonesia adalah salah satu oase bagi para pencari ilmu. Namun, tak semua santri yang berada di lingkungan tersebut memiliki tujuan dan tekad yang sama. Layaknya perjalanan umroh backpacker yang serba mandiri, santri ikhwan di markaz ini diberikan kebebasan penuh untuk mengatur jadwal, prioritas, dan kegiatannya sendiri. Apakah kebebasan ini mendukung optimalisasi pembelajaran Al-Qur’an, ataukah justru menjadi hambatan bagi sebagian santri?

Kebebasan dalam Sistem “Alami” Markaz Alquran Indonesia.
Di MQI, santri ikhwan seperti tidak ada jadwal yang kaku. Setiap santri memiliki kesempatan untuk menentukan aktivitas harian mereka sendiri. Ada yang memanfaatkan waktu dengan sepenuh hati untuk menghafal, mengulang, atau mendalami Al-Qur’an. Mereka yang berkomitmen ini menjadikan markaz sebagai tempat menempa diri dalam ilmu dan ibadah.
Namun, ada pula santri yang hanya “numpang tempat.” Kebebasan tanpa pengawasan ketat membuat sebagian dari mereka cenderung lalai atau bahkan mengabaikan tujuan utama mereka berada di markaz. Minimnya aktivitas Al-Qur’an menjadi cerminan lemahnya komitmen dan kurangnya motivasi.

Kelebihan Sistem Mandiri
Kebebasan penuh ini memiliki sisi positif. Santri diajarkan untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri, belajar mengelola waktu, dan menyusun prioritas. Sistem ini ideal bagi antum yang memiliki kedisiplinan dan motivasi tinggi.
Selain itu, pendekatan ini memungkinkan setiap individu untuk berkembang sesuai kapasitas dan kecepatan mereka sendiri. Tidak ada tekanan eksternal, sehingga mereka yang benar-benar ingin mendalami Al-Qur’an melakukannya dengan kesadaran penuh.

Tantangan dalam Kebebasan
Namun, kebebasan yang terlalu luas juga memiliki risiko. Tanpa arahan dan motivasi yang kuat, santri dapat kehilangan fokus. Banyak di antara mereka yang lebih tergoda dengan kenyamanan hidup daripada perjuangan dalam menghafal dan mempelajari Al-Qur’an.
Minimnya struktur dapat membuat santri yang tidak disiplin terjebak dalam kebiasaan bermalas-malasan. Pada akhirnya, lingkungan yang seharusnya menjadi tempat mendekatkan diri kepada Allah justru menjadi sekadar tempat persinggahan tanpa manfaat yang berarti.

Kesimpulan
Markaz Al-Qur’an Indonesia dengan sistem yang menyerupai “umroh backpacker” memberikan tantangan sekaligus peluang. Kebebasan yang diberikan dapat menjadi ruang bagi santri untuk berkembang mandiri, namun juga berpotensi menurunkan kualitas pembelajaran jika tidak diimbangi dengan komitmen yang kuat.
Dalam menghadapi realitas ini, penting untuk diciptakan ekosistem yang mendukung keseimbangan antara kebebasan dan komitmen, sehingga setiap santri dapat mencapai tujuan utama mereka—menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Alloh melalui Al-Qur’an.
Hisyam Khoirul Azzam
Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
