100 Tahun kenapa belum berhasil?

Ikhwanul Muslimin adalah gerakan Islam yang didirikan oleh Hasan al-Banna di Mesir pada tahun 1928. Setelah hampir satu abad, tantangan dalam menerapkan delapan fikrah (pemikiran) yang diusung gerakan ini dapat dilihat dari berbagai perspektif. Berikut adalah beberapa alasan mengapa penerapan delapan fikrah tersebut masih menghadapi hambatan:

1. Reaksi Pemerintah dan Tekanan Politik

Banyak negara tempat Ikhwan beroperasi menganggapnya sebagai ancaman politik dan melarang aktivitasnya. Rezim-rezim otoriter sering kali menekan, memenjarakan, bahkan membunuh para aktivisnya.

Stigma “teroris” yang dilekatkan oleh beberapa negara membuat gerakan ini kehilangan legitimasi di mata sebagian masyarakat.

2. Fragmentasi Internal

Ikhwanul Muslimin tidak selalu satu suara. Dalam gerakan besar ini, terdapat perbedaan ideologi, pendekatan, dan strategi yang menyebabkan perpecahan.

Konflik generasi muda dan tua dalam gerakan sering kali memperlambat konsolidasi fikrah.

3. Tantangan Ideologis dan Pemahaman Fikrah

Tidak semua anggota atau simpatisan Ikhwan memahami delapan fikrah secara mendalam atau mampu mengaplikasikannya dengan baik.

Pemikiran Hasan al-Banna terkadang dianggap tidak relevan di beberapa konteks modern, sehingga butuh reinterpretasi.

4. Konteks Global yang Berubah

Tantangan global seperti sekularisme, kapitalisme, dan globalisasi membuat penerapan nilai-nilai Islam dalam tatanan politik, sosial, dan ekonomi semakin sulit.

Munculnya ideologi-ideologi baru (misalnya liberalisme atau radikalisme) juga mengalihkan fokus umat Islam dari visi Ikhwan.

5. Ketergantungan pada Politik

Fokus besar pada aspek politik terkadang membuat Ikhwan mengabaikan bidang sosial, pendidikan, atau ekonomi, yang sebenarnya juga bagian dari fikrah.

Kegagalan dalam politik, seperti pengalaman singkat mereka di Mesir setelah Arab Spring, merusak reputasi dan kredibilitas mereka.

6. Kurangnya Dukungan dari Umat Islam Sendiri

Sebagian umat Islam tidak mendukung Ikhwan karena perbedaan mazhab, pemikiran, atau pendekatan dakwah.

Kurangnya edukasi umat tentang tujuan Ikhwan juga menjadi hambatan.

7. Tantangan Eksternal dan Propaganda

Kampanye global yang menyudutkan Ikhwan sebagai organisasi ekstremis mempersulit penerimaan mereka di tingkat internasional.

Intervensi asing di dunia Muslim sering kali menghancurkan struktur sosial yang ingin dibangun Ikhwan.

8. Perubahan Sosial dan Budaya

Nilai-nilai yang ditawarkan Ikhwan terkadang dianggap kurang relevan dengan realitas modern oleh sebagian masyarakat.

Generasi muda cenderung lebih tertarik pada isu-isu seperti hak asasi manusia, teknologi, dan keadilan sosial daripada pendekatan ideologis yang terlalu normatif.

Kesimpulan

Ikhwanul Muslimin menghadapi tantangan internal dan eksternal dalam usahanya menerapkan delapan fikrah. Meski demikian, mereka tetap memiliki pengaruh besar di dunia Muslim, terutama dalam hal membangkitkan kesadaran umat tentang pentingnya Islam sebagai solusi holistik. Evaluasi berkelanjutan, inovasi dalam pendekatan, dan adaptasi terhadap konteks modern mungkin menjadi kunci keberhasilan di masa depan.

Keberhasilan Ikhwanul Muslimin dalam menerapkan delapan fikrah sejatinya tidak hanya bergantung pada upaya manusiawi seperti strategi, kekuatan politik, atau dukungan umat, tetapi juga pada pertolongan Allah. Sebab, sebagaimana janji-Nya dalam Al-Qur’an, “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS. Muhammad: 7). Dengan kesabaran, keikhlasan, dan tawakal yang kokoh, perjuangan ini akan selalu berada dalam naungan rahmat-Nya, karena hanya Allah yang mampu menggerakkan hati dan memberikan kemenangan yang hakiki.

Ingat, Kegagalan di mata manusia belum tentu merupakan kegagalan di mata Allah, karena ukuran keberhasilan di sisi-Nya bukanlah hasil akhir semata, melainkan keikhlasan, kesungguhan, dan kesabaran dalam berjuang. Allah berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 216). Maka, setiap langkah dalam perjuangan, meskipun terlihat tidak membuahkan hasil, tetap memiliki nilai besar di sisi Allah selama didasari niat yang lurus dan pengabdian kepada-Nya.

Hisyam Khoirul Azzam


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar