Bono dan Mimpi Rumahnya

Dibawah sinar bulan sabit tanggal tua, sebagian berusaha memperbaiki, turut hadir penonton sekaligus komentator, ada yang khusyuk di lahan basah, sebagian lagi tak lelah menikmati panen padi, anehnya ada orang tak dikenal ikutan panen, yang mengharukan adalah ada juga orang yang bukan bagian dari mereka tetapi ikut memperbaiki.


Bono, pemuda desa dengan semangat membara, mengusung mimpi besar. Ia ingin membangun rumah yang tidak hanya sekadar tempat berteduh, tetapi juga simbol harapan bagi keluarga dan ummat. Rumah itu akan menjadi benteng kokoh yang melindungi mereka dari segala macam bahaya, menjadi saksi bisu dari tumbuh kembang peradaban pembaharu.


Dengan penuh semangat, Bono mulai merancang rumah impiannya. Ia membagi pembangunan rumah itu menjadi delapan bagian penting: pondasi, tanah urug, lantai, atap, tiang, pintu, jendela, dan perabotan. Setiap bagian memiliki peran krusial dalam mewujudkan rumah yang sempurna.


Bono memulai pekerjaannya dengan fokus pada fondasi yang kuat. Ia menggali tanah, memadatkan urugan, dan membangun lantai yang kokoh. Dengan penuh keyakinan, ia yakin bahwa fondasi yang kuat adalah kunci dari sebuah bangunan yang kokoh.


Namun, beberapa Hijriyah berlalu, Bono mulai merasa tertekan dengan cuaca yang tidak menentu. Hujan deras mengguyur desanya tanpa henti. Ia mulai khawatir akan kondisi tanah urug yang belum sepenuhnya kering. Meski begitu, Bono tetap optimis dan melanjutkan pekerjaannya.


Tak lama setelah itu, Bono beralih fokus pada pembangunan atap. Ia ingin segera melindungi rumah dari terpaan hujan dan panas matahari. Dengan tekun, ia mengumpulkan bahan-bahan atap dan mulai memasang genteng satu per satu. Alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan.


Sayangnya, dalam kesibukannya terhanyut membangun atap, Bono mengabaikan bagian-bagian lain dari rumahnya. Tiang-tiang penyangga mulai rapuh karena “rayap”, dindingnya retak-retak termakan usia, dan pintu serta jendela “ilmu” pun mulai lapuk. Fondasi yang dulunya kokoh, kini mulai terkikis oleh “rezim” air hujan yang silih berganti terus menerus menggerus tanah urug di sampingnya melalui lubang tikus.


Bono tidak menyadari kerusakan yang terjadi pada rumah impiannya. Ia terus bekerja keras membangun atap, berharap bisa segera melihat rumahnya selesai. Namun, suatu malam, terjadilah musibah. Hujan deras disertai angin kencang menerjang desanya. Atap rumah Bono yang belum sepenuhnya kuat roboh dan menimpa bagian-bagian rumah yang lain.


Pagi harinya, Bono terbangun dengan perasaan terkejut dan sedih. Rumah impiannya hancur berkeping-keping. Semua jerih payahnya selama ini sirna dalam sekejap. Bono merasa sangat terpukul dan putus asa. Ia bertanya-tanya di mana kesalahannya sehingga rumah impiannya harus berakhir seperti ini.

Hisyam Khoirul Azzam


Eksplorasi konten lain dari KaliSantri Pabelan

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan komentar